photo headerpage450x150_zpsa3a1299a.gif

Mudik Tradisi Ala Indonesia

Menjelang hari raya Idul Fitri, mayoritas masyarakat Indonesia yang tinggal di kota-kota besar kembali menuju kampung masing-masing. Seiring dengan akan berakhirnya Ramadan, mereka yang sedang berada di daerah perantauan biasanya mulai disibukkan berbagai persiapan untuk mudik Lebaran ke kampung halaman. Sebuah tradisi yang begitu mengakar di masyarakat, Tradisi Mudik namanya. tradisi mudik Idul Fitri sudah menjadi ritual tahunan yang dilakukan umat Islam seantero Nusantara.

Di Indonesia, mudik amat kuat karena ikatan komunitas kita amat kental. Ini tak terlepas dari kondisi geografis negeri kita yang berpulau-pulau dan bersuku-suku. Suku menjadi identitas. Kedaerahan menjadi identitas yang penting dan kuat. Ini tentu punya daya tarik. Siapa pun yang merantau pasti rindu untuk pulang ke kampung dan bereuni bersama sanak family dan handai tolan. Karena momentumnya berkait dengan event agama, terjadilah keserempakan pulang kampung dengan segala problematikanya. Fenomena metafisik tersirat dalam tradisi ini, bahwa seberapa pun jauhnya merantau, pada akhirnya seseorang akan kembali ke asalnya. Pepatah mengatakan, setinggi-tinggi bangau terbang, ia akan kembali ke sangkarnya.

Tradisi mudik Lebaran telah menjadi ritual bagi umat muslim, tidak peduli ia berasal dari golongan kaya atau miskin. Berbagai motivasi turut menyertai peserta mudik lebaran, seperti rindu kampung halaman, sungkem kepada orang tua, silaturrahmi dengan sanak saudara, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Di dalamnya terdapat suatu makna bersilaturahmi guna mempererat ikatan dengan kampung halaman, sungkem pada orang tua, bertemu dengan para kerabat dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Mudik dapat dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak peduli ia berasal dari golongan apa. Andre Moller dalam buku Ramadan di Jawa (2002) mengomentari tradisi mudik sebagai fenomena khas dan unik yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Idul fitri dan mudik punya keterkaitan makna. Idul fitri artinya kembali pada fitrah, merayakan kemenangan kita setelah puasa sebulan. Kita rayakan rediscovery. Itu sebuah inner journey. Dalam kehidupan sehari-hari, orientasi kita itu adalah outer journey sehingga acapkali kita lupa untuk berdialog pada diri kita sendiri. Nah, Idul Fitiri itu merupakan dialog dalam diri kita untuk bertanya seberapa jauh kefitrian jiwa kita.

Esensi Mudik

Mudik adalah tradisi yang menyertai Idul Fitri. Mudik sebenarnya adalah bentuk kebutuhan psikologis. Dimana timbulnya dorongan keinginan dan kerinduan yang kuat untuk pulang menapak tilas tempat lahir dan tempat yang menyimpan memori dan masa tumbuh kembang sebagai anak-anak hingga dewasa. Ini merupakan kerinduan psikologis-primordial. Di Indonesia, momentum Lebaran dan mudik didukung oleh pembenaran teologis untuk menyampaikan bakti dan permohonan maaf kepada handai tolan, khususnya orang tua.

Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa, “Manusia itu homo festivus, suka berfestival. Festival mengemban tiga misi. Pertama, mengenang budaya dan tradisi lama. Kedua, mengenalkan tradisi (lama) itu kepada generasi baru. Ketiga, memperhadapkan tradisi lama pada situasi hari esok berupa penguatan budaya.

Nah, mudik itu juga merupakan acara festival. Ada upaya mengenang (tradisi) masa lalu, mengenalkan tradisi itu kepada anak-anak sekarang serta memprediksi peluang pengembangan nilai tradisi untuk hari esok.”

Mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata udik yang mengandung makna dusun, desa atau kampung (lawan dari kota). Selama ini kesan udik atau orang kampung cenderung berkonotasi negatif, yang kadang dikaitkan dengan kebodohan atau “kampungan” yang tidak tahu adat sopan santun. Padahal dalam pengertian lebih luas, mudik bermakna mereguk kembali semangat udik (kampung) yang identik dengan gotong royong, kesetiakawanan, kebersahajaan, dan persaudaraan untuk dibawa lagi bila para pemudik balik ke komunitas di mana mereka tinggal.

Dalam makna spiritual, pengertian mudik diartikan dengan kembali pada ampunan Allah. Dalam surat Ali Imran ayat 133 tertulis: “Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” Intinya, ajakan untuk mudik yakni kembali pada ampunan Tuhan.

Sosiokultural Mudik

Fenomena mudik ini juga menunjukkan bahwa hubungan emosional masyarakat dengan tempat kelahiran masih sangat kuat, tidak pernah terkikis oleh perjalanan waktu. Ini fenomena antropologis universal. Punya aspek psikologis. Semua agama dan bangsa punya event tertentu untuk gathering. Setiap agama, bangsa, dan agama punya event seperti itu. Orang Amerika, misalnya mengenal Thanksgiving Day, hari pengucapan syukur yang dilakoni dengan gathering. Demikian pula orang China, berkumpul melalui Imlek. Namun, tradisi ini tidak didasari oleh hubungan emosional yang kuat seperti masyarakat kita.

Fenomena mudik masyarakat Indonesia lebih didasari oleh karakter sosial inwardlooking yang sangat kuat. Yaitu karakter sosial yang cenderung menengok ke belakang, memandang masa lampau, dan menatap ke dalam sangat kuat. Mereka bekerja untuk hari ini karena kemiskinannya ia tidak mempedulikan masa datang. Hanya kadang-kadang untuk pengobat hati rindu, ia mengenang kejayaan masa lampau yang didengarnya dari dongeng orang tua dulu.

Dipandang dari dimensi sosial yang lain, fenomena mudik juga menjadi indikator ketergantungan desa pada kota. Status sosial menengah ke bawah di desa tidak mungkin dapat menaiki tangga sosial langsung ke lapisan elite lokal. Mengadu nasib ke kota merupakan salah satu jalan yang ditempuh agar mobilitas sosial dapat melalui ”jalan tol” untuk naik tangga sosial. Boleh jadi, seseorang saat di perantauan menempati strata sosial kelas bawah atau strata tengah. Namun, ketika pulang ke desa, dengan kekayaan yang mereka kumpulkan di kota, strata sosialnya langsung naik. Mudik itu berdimensi sosial, ekonomi, dan politik. Pemerintah semestinya memberikan perhatian khusus kepada masyarakat yang senantiasa memelihara tradisi mudik. Seharusnya pemerintah menyediakan infrastruktur yang memadai bagi warganya untuk memperlancar arus mudik. Berkumpulnya masyarakat kota-kota di desa-desa dalam suasana Lebaran membangun penyadaran akan ketimpangan pembangunan antara kota dan desa. Diharapkan muncul kesetiakawanan sosial. Secara tidak langsung mobilitas manusia yang masif akan berdampak pada perputaran uang dari kota ke desa.

Jadi kerusakan jalan pada jalur mudik yang setiap tahun menyita perhatian semestinya tidak perlu terjadi jika pemerintah memahami pentingnya mudik. Sebelum pemudik berdatangan, pemerintah di daerah juga perlu berapa banyak anak di kampung itu tidak bisa sekolah atau lulus sekolah tetapi belum bekerja. Mudik bisa dikelola sebagai ajang mengumpulkan ide dan kekuatan materi untuk mengatasi berbagai problem akibat kemiskinan struktural.

Semoga mudik tahun ini akan penuh dengan kisah sarat makna yang akan membangun pribadi kita menjadi lebih matang dari sebelumnya. Selamat Mudik!

398 total views, 1 views today

 photo BanggaJadiOrangIndonesia450x100_zps0d4b1445.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>