<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>I Love Indonesia &#187; LEGENDA RAKYAT INDONEIA</title>
	<atom:link href="http://dirrga.com/category/legenda-rakyat-indoneia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dirrga.com</link>
	<description>Atas Berkat Rahmat Alloh Yang Maha Kuasa</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 01:56:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Orang Jawa Di Suriname</title>
		<link>http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/</link>
		<comments>http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 12:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LEGENDA RAKYAT INDONEIA]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALIS]]></category>
		<category><![CDATA[SEJARAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirrga.com/?p=1370</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/' addthis:title='Orang Jawa Di Suriname '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>&#160; Sejarah kolonial dan migrasi tenaga kerja telah menghasilkan komunitas yang unik jauh dari pantai Indonesia&#160;&#8230;.. Mungkin beberapa orang di Indonesia tahu bahwa ada komunitas besar orang-orang keturunan Indonesia yang tinggal di utara benua Amerika Selatan. Lebih dari 70.000 &#8216;Jawa&#8217; hidup di Suriname, sebuah bekas koloni Belanda dan bersemangat negara multikultural terletak di utara Brasil [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/' addthis:title='Orang Jawa Di Suriname ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/' addthis:title='Orang Jawa Di Suriname '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p style="text-align: center; "><img alt="" class="aligncenter" height="35" src="http://dirrga.com/wp-content/uploads/Atas-Berkat-Rahmat-Alloh8.gif" title="Atas Berkat Rahmat Alloh" width="393" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;"><span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Verdana, sans-serif; line-height: normal; "><img align="left" alt="" class="alignleft" height="98" src="http://dirrga.com/wp-content/uploads/Bangga-Indonesia5.jpg" title="I Love Indonesia" width="100" /></span>Sejarah kolonial dan migrasi tenaga kerja telah menghasilkan komunitas yang unik jauh dari pantai Indonesia<span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Verdana, sans-serif; line-height: normal; "><img align="right" alt="" class="alignright" height="128" src="http://sejarahbangsaindonesia.files.wordpress.com/2011/05/imigran-jawa-suriname-main.jpg?w=390&amp;h=250" title="Imigran Jawa di Suriname" width="200" /></span>&nbsp;&hellip;.. Mungkin beberapa orang di Indonesia tahu bahwa ada komunitas besar orang-orang keturunan Indonesia yang tinggal di utara benua Amerika Selatan. Lebih dari 70.000 &lsquo;Jawa&rsquo; hidup di Suriname, sebuah bekas koloni Belanda dan bersemangat negara multikultural terletak di utara Brasil di pantai Karibia.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Walaupun mereka telah di sana selama beberapa generasi, banyak dari mereka masih mengidentifikasi Jawa, walaupun sangat sedikit yang pernah mengunjungi pulau Jawa atau memelihara hubungan keluarga di sana. Tetapi mereka berbicara creolised versi bahasa Jawa, nama Jawa muncul pada semua tingkat masyarakat dan unsur-unsur budaya Jawa (seperti masakan) telah mempengaruhi bangsa ini budaya Karibia. &nbsp; &nbsp;&nbsp;<span id="more-1370"></span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Sebuah sejarah kolonial Kenapa puluhan ribu orang dari keturunan Jawa tinggal di Suriname? Ini semua harus dilakukan dengan penghapusan perbudakan dan pentingnya sistem perkebunan di koloni ini. Pada 1863, pemerintah Belanda membebaskan lebih dari 33.000 budak di Suriname. Dalam dampak penghapusan ini, pihak berwenang mengikuti koloni Karibia lain dengan mengimpor pekerja diwajibkan dari British India untuk memasok perkebunan dengan buruh murah dan patuh. Lima tahun kontrak rinci hak-hak dan tugas dari indentureds. Penting bagi sistem buruh kontrak yang disebut sanksi pidana, yang memberikan hak majikan untuk menekan tuntutan pidana terhadap indentureds yang melanggar kontrak kerja mereka. Antara 1873 dan 1916 lebih dari 34.000 orang Indian Inggris datang ke Suriname.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Namun, keraguan muncul pada sumber tenaga kerja kontrak ini. Masalah utama adalah bahwa imigran India Inggris tetap warga negara asing, dan karena itu cukup proporsi penduduk suriname akan segera Inggris. Selain itu, mata pelajaran ini bisa naik banding terhadap keputusan tertinggi otoritas Belanda dan meminta bantuan dari Konsul Inggris, yang tidak akan meningkatkan kepatuhan dari tenaga kerja. Kekhawatiran tambahan adalah ketergantungan pada negara asing untuk tenaga kerja dan gerakan nasionalis yang berkembang di India, yang galak menyerang sistem kontrak migrasi. Bahkan, di India sistem ini dihapus pada 1916. Beralih ke Jawa dianggap sebagai alternatif sumber tenaga kerja.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Upaya awal untuk mengimpor orang dari Jawa datang ke sia-sia karena pemerintah Belanda tidak mengizinkan migrasi dari Jawa ketika ada ada kemungkinan untuk memperoleh tenaga kerja di India. Namun gerakan untuk merekrut Jawa mendapatkan kekuatan di tahun 1880-an akibat perubahan iklim politik di India. Keuntungan lain adalah bahwa Belanda sendiri akan mengendalikan proses rekrutmen dan imigrasi dan tidak akan bersaing dengan merekrut negara-negara lain, seperti yang terjadi di India.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Tradisi budaya jawa telah terbukti menjadi kuat, walaupun perubahan dan penyesuaian di Suriname, misalnya dalam bahasa, tidak terhindarkan menteri kolonial Belanda keberatan untuk emigrasi dari Jawa hingga akhir 1887 oleh berargumen bahwa rakyat Jawa tidak cenderung untuk bermigrasi ke jauh-jauh dan tidak dikenal Suriname. Setelah melobi berat dari Suriname pekebun dan pejabat, pemerintah akhirnya memutuskan untuk membiarkan percobaan pertama dengan kontrak seratus Jawa migran pada tahun 1890.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Meskipun keraguan tentang kekuatan fisik pekerja baru, migrasi ke Jawa suriname sekarang berwenang. Secara total, hampir 33.000 Jawa bermigrasi ke Suriname pada periode 1890-1939. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya dan Semarang merupakan daerah perekrutan utama. Hanya 20 hingga 25 persen dari migran Jawa kembali ke negara asal mereka sebelum Perang Dunia II. Sebagian besar imigran menetap di Suriname. Migran ditugaskan untuk perkebunan. Menurut kontrak, perkebunan harus menyediakan perumahan gratis bagi buruh. Namun, kualitas perumahan sering di bawah standar.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Para pejabat India Timur Belanda H. van Vleuten, yang mengunjungi Suriname pada tahun 1909 untuk menyelidiki hidup dan kondisi kerja orang Jawa, melaporkan bahwa kehidupan rumah tangga dari imigran Jawa menampakkan diri kepadanya sebagai &lsquo;agak menyedihkan&rsquo;. Sebagian besar kamar &lsquo;memberi kesan kemiskinan besar penduduk mereka. &rdquo; Kontrak kerja tetap upah laki-laki dan perempuan, tetapi kebanyakan indentureds menunjukkan bahwa mereka tidak mendapatkan upah yang terdaftar. Van Vleuten menyimpulkan bahwa &ldquo;upah rata-rata yang diterima oleh pekerja kontrak jauh di bawah minimum.&rdquo; Dia berargumen bahwa penghasilan itu terlalu rendah untuk mencari nafkah di sebuah koloni semahal Suriname.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Selain masalah materi ini, orang Jawa juga harus menghadapi penyesuaian untuk hidup baru, diet, dan bekerja rezim dalam lingkungan yang sering bermusuhan. Tidak mengherankan, kerinduan melanda banyak migran. Keinginan untuk kembali ke Jawa menjabat sebagai bentuk pelarian. Ini pelarian dan teknik lainnya, seperti pura-pura penyakit, tersembunyi menjabat sebagai bentuk protes terhadap sistem surat perjanjian rangkap dua. Kontinuitas budaya Tradisi budaya Jawa telah terbukti menjadi kuat, walaupun perubahan dan penyesuaian di Suriname, misalnya dalam bahasa, tidak terhindarkan. Namun generasi kedua dan kemudian masih mengidentifikasi dengan negara asal mereka. Para pemerintah Suriname juga secara aktif mempromosikan kelangsungan hidup budaya Jawa di masa sebelum Perang Dunia II. Pada tahun 1930, gubernur memulai sebuah &lsquo;Indianisation&rsquo; proyek untuk mengisi koloni dengan petani Jawa, yang akan menetap dalam gaya Jawa-desa (desa) lengkap dengan agama mereka sendiri dan kepemimpinan sipil.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Program ini dipotong oleh perang. Setelah perang, lanskap politik berubah diperbolehkan untuk pembentukan partai-partai politik di Suriname. Kedua partai-partai Jawa, seperti semua pihak lain, berdasarkan etnisitas daripada ideologi. Sana ada persaingan yang kuat antara para pemimpin mereka, Iding Soemita dan Salikin Hardjo. Yang terakhir ini tidak terlalu berhasil dalam pemilihan umum pertama pada tahun 1949 dan kemudian berkonsentrasi pada mendorong kembali ke Jawa oleh kelompok memilih orang terampil. Pada tahun 1954, seribu Jawa berlayar bagi Indonesia, untuk memulai sebuah koperasi pertanian di Tongar di Sumatera Barat. Eksodus kedua terjadi di tahun 1970-an, ketika sekitar 20.000 orang Jawa berangkat ke Belanda pada malam kemerdekaan Suriname pada tahun 1975.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Politik, pentingnya kelompok penduduk Jawa tidak bisa dibantah politik, pentingnya kelompok penduduk Jawa tidak bisa dibantah. Sering orang Jawa terus keseimbangan antara yang lebih besar dan lebih kuat Afro-Suriname dan Hindustan (mantan British Indian) kelompok. Saat ini, Paulus Slamet Somohardjo adalah pertama-pernah Jawa Ketua Majelis Nasional. Pembangunan sosio-ekonomi mereka lebih lambat, tetapi sejak tahun 1960-an orang Jawa telah mengejar kelompok populasi lain, meskipun tingkat urbanisasi masih lebih rendah dibandingkan dengan kelompok besar lainnya.</span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 10px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "><span style="color:#ffffe0;">Menyusul runtuhnya perkebunan di paruh pertama abad kedua puluh, banyak orang Jawa yang ditemukan bekerja di industri bauksit dan sektor pertanian. Hanya dalam dekade terakhir abad terakhir melakukan kehadiran Jawa dalam bisnis, profesi dan peningkatan layanan sipil. Demografis, orang Jawa sudah lama menjadi penduduk terbesar ketiga grup, tetapi Maroon (keturunan budak yang melarikan diri) sempit melebihi mereka dalam sensus terakhir tahun 2004. Menurut angka-angka ini, para kelompok Hindustan menghitung 135.000 orang, diikuti oleh Afro-Suriname (87.500), Maroon (72.600), dan Jawa (71.900). Orang Jawa yang unik telah menambahkan elemen etnis dan budaya ke Karibia dan Amerika Latin. Namun, hal ini tidak menghasilkan banyak kepentingan penelitian di Jawa dan kebudayaan mereka. Oleh karena itu akan baik untuk memperoleh pengetahuan tentang kehidupan, budaya, dan kemajuan dari Jawa di Suriname. Hal ini tentu worth it!</span></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fdirrga.com%2Forang-jawa-di-suriname%2F&amp;t=Orang%20Jawa%20Di%20Suriname" id="facebook_share_both_1370" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_1370') || document.getElementById('facebook_share_icon_1370') || document.getElementById('facebook_share_both_1370') || document.getElementById('facebook_share_button_1370');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_1370') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/' addthis:title='Orang Jawa Di Suriname ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirrga.com/orang-jawa-di-suriname/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaka Tarub</title>
		<link>http://dirrga.com/jaka-tarub/</link>
		<comments>http://dirrga.com/jaka-tarub/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 14:19:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LEGENDA RAKYAT INDONEIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirrga.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/jaka-tarub/' addthis:title='Jaka Tarub '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Nama Jaka Tarub terdapat dalam Babad Tanah Jawi, yaitu kumpulan naskah yang berisi sejarah Kesultanan Mataram. Tidak diketahui siapa nama asli Jaka Tarub, ataupun nama asli kedua orang tuanya. Dikisahkan ada seorang pemuda, sebut saja Jaka Kudus, kabur dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya (KI Ageng Kudus). Di tengah jalan Jaka Kudus memerkosa putri Ki [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/jaka-tarub/' addthis:title='Jaka Tarub ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/jaka-tarub/' addthis:title='Jaka Tarub '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type" /><meta content="Word.Document" name="ProgId" /><meta content="Microsoft Word 10" name="Generator" /><meta content="Microsoft Word 10" name="Originator" />
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDirrga%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><!--[if gte mso 9]><xml><br />
 <w:WordDocument><br />
  <w:View>Normal</w:View><br />
  <w:Zoom>0</w:Zoom><br />
  <w:Compatibility><br />
   <w:BreakWrappedTables/><br />
   <w:SnapToGridInCell/><br />
   <w:WrapTextWithPunct/><br />
   <w:UseAsianBreakRules/><br />
  </w:Compatibility><br />
  <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel><br />
 </w:WordDocument><br />
</xml><![endif]--><br />
<style>
<!--{cke_protected}%3C!%2D%2D%0A%20%2F*%20Style%20Definitions%20*%2F%0A%20p.MsoNormal%2C%20li.MsoNormal%2C%20div.MsoNormal%0A%09%7Bmso-style-parent%3A%22%22%3B%0A%09margin%3A0in%3B%0A%09margin-bottom%3A.0001pt%3B%0A%09mso-pagination%3Awidow-orphan%3B%0A%09font-size%3A12.0pt%3B%0A%09font-family%3A%22Times%20New%20Roman%22%3B%0A%09mso-fareast-font-family%3A%22Times%20New%20Roman%22%3B%7D%0A%40page%20Section1%0A%09%7Bsize%3A8.5in%2011.0in%3B%0A%09margin%3A1.0in%201.25in%201.0in%201.25in%3B%0A%09mso-header-margin%3A.5in%3B%0A%09mso-footer-margin%3A.5in%3B%0A%09mso-paper-source%3A0%3B%7D%0Adiv.Section1%0A%09%7Bpage%3ASection1%3B%7D%0A%2D%2D%3E-->
</style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://dirrga.com"><img alt="i love +62" class="alignnone size-full wp-image-874" height="48" src="http://dirrga.com/wp-content/uploads/love+6219.jpg" title="i love +62" width="50" /></a>Nama Jaka Tarub terdapat dalam Babad Tanah Jawi, yaitu kumpulan naskah yang berisi sejarah Kesultanan Mataram. Tidak diketahui siapa nama asli Jaka Tarub, ataupun nama asli kedua orang tuanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p><span id="more-873"></span></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Dikisahkan ada seorang pemuda, sebut saja Jaka Kudus, kabur dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya (KI Ageng Kudus). Di tengah jalan Jaka Kudus memerkosa putri Ki Ageng Kembanglampir sampai hamil. Gadis itu akhirnya meninggal saat melahirkan.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Bayi laki-laki yang ditinggal mati ibunya itu, ditemukan seorang pemburu bernama Ki Ageng Selandaka. Si bayi digendong sambil mengejar burung sampai ke desa Tarub. Karena merasa terganggu, Ki Ageng Selandaka akhirnya meninggalkan bayi tersebut di jalanan.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Si bayi ditemukan seorang janda, sebut saja Nyai Tarub, dan dijadikan anak angkat. Oleh penduduk sekitar ia dipanggil dengan nama Jaka Tarub.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Pernikahan Jaka Tarub<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Jaka Tarub tumbuh menjadi seorang pemuda yang gemar berburu. Suatu hari ia melanggar larangan ibu angkatnya supaya tidak berburu sampai kawasan Gunung Keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga tempat tujuh bidadari mandi.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Jaka Tarub mencuri selendang salah satu bidadari. Ketika acara mandi selesai, enam dari tujuh bidadari tersebut kembali ke kahyangan. Sisanya yang satu orang bingung mencari selendangnya, karena tanpa itu ia tidak mampu terbang.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Jaka Tarub muncul pura-pura datang menolong. Bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumahnya. Keduanya akhirnya menikah dan mendapatkan seorang putri bernama Retno Nawangsih.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Selama hidup berumah tangga, Nawangwulan selalu memakai kesaktiannya. Sebutir beras bisa dimasaknya menjadi sebakul nasi. Suatu hari Jaka Tarub melanggar larangan Nawangwulan supaya tidak membuka tutup penanak nasi. Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Maka, persediaan beras menjadi cepat habis. Ketika beras tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendang pusakanya tersembunyi di dalam lumbung. Nawangwulan pun marah mengetahui kalau suaminya yang telah mencuri benda tersebut.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Jaka Tarub memohon istrinya untuk tidak kembali ke kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya demi bayi Nawangsih ia rela turun ke bumi untuk menyusui saja.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Pernikahan Nawangsih<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari Brawijaya mengirimkan keris pusaka Kyai Mahesa Nular supaya dirawat oleh Ki Ageng Tarub.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub mengetahui kalau Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya yang tidak diakui. Maka, pemuda itu pun diminta agar tinggal bersama di desa Tarub.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Sejak saat itu Bondan Kejawan menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti namanya menjadi Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng alias Bondan Kejawan menggantikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.<o:p></o:p></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fdirrga.com%2Fjaka-tarub%2F&amp;t=Jaka%20Tarub" id="facebook_share_both_873" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_873') || document.getElementById('facebook_share_icon_873') || document.getElementById('facebook_share_both_873') || document.getElementById('facebook_share_button_873');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_873') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/jaka-tarub/' addthis:title='Jaka Tarub ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirrga.com/jaka-tarub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sangkuriang</title>
		<link>http://dirrga.com/sangkuriang/</link>
		<comments>http://dirrga.com/sangkuriang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 14:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[LEGENDA RAKYAT INDONEIA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirrga.com/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/sangkuriang/' addthis:title='Sangkuriang '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang penciptaan danau Bandung, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul. Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi Bandung. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di [...]<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/sangkuriang/' addthis:title='Sangkuriang ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://dirrga.com/sangkuriang/' addthis:title='Sangkuriang '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div><p><meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type" /><meta content="Word.Document" name="ProgId" /><meta content="Microsoft Word 10" name="Generator" /><meta content="Microsoft Word 10" name="Originator" />
<link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDirrga%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" /><o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"></o:smarttagtype><o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"></o:smarttagtype><!--[if gte mso 9]><xml><br />
 <w:WordDocument><br />
  <w:View>Normal</w:View><br />
  <w:Zoom>0</w:Zoom><br />
  <w:Compatibility><br />
   <w:BreakWrappedTables/><br />
   <w:SnapToGridInCell/><br />
   <w:WrapTextWithPunct/><br />
   <w:UseAsianBreakRules/><br />
  </w:Compatibility><br />
  <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel><br />
 </w:WordDocument><br />
</xml><![endif]--><!--[if !mso]><object<br />
 classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></object></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--><br />
<style>
<!--{cke_protected}%3C!%2D%2D%0A%20%2F*%20Style%20Definitions%20*%2F%0A%20p.MsoNormal%2C%20li.MsoNormal%2C%20div.MsoNormal%0A%09%7Bmso-style-parent%3A%22%22%3B%0A%09margin%3A0in%3B%0A%09margin-bottom%3A.0001pt%3B%0A%09mso-pagination%3Awidow-orphan%3B%0A%09font-size%3A12.0pt%3B%0A%09font-family%3A%22Times%20New%20Roman%22%3B%0A%09mso-fareast-font-family%3A%22Times%20New%20Roman%22%3B%7D%0A%40page%20Section1%0A%09%7Bsize%3A8.5in%2011.0in%3B%0A%09margin%3A1.0in%201.25in%201.0in%201.25in%3B%0A%09mso-header-margin%3A.5in%3B%0A%09mso-footer-margin%3A.5in%3B%0A%09mso-paper-source%3A0%3B%7D%0Adiv.Section1%0A%09%7Bpage%3ASection1%3B%7D%0A%2D%2D%3E-->
</style>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><img alt="i love +62" class="alignnone size-full wp-image-829" height="48" src="http://dirrga.com/wp-content/uploads/love+624.jpg" title="i love +62" width="50" />Sangkuriang adalah legenda yang berasal dari Tatar Sunda. Legenda tersebut berkisah tentang penciptaan danau <st1:city><st1:place>Bandung</st1:place></st1:city>, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang dan Gunung Bukit Tunggul.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Dari legenda tersebut, kita dapat menentukan sudah berapa lama orang Sunda hidup di dataran tinggi <st1:city><st1:place>Bandung</st1:place></st1:city>. Dari legenda tersebut yang didukung dengan fakta geologi, diperkirakan bahwa orang Sunda telah hidup di dataran ini sejak beribu tahun sebelum Masehi.<span id="more-828"></span><o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskha tersebut ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan pulau <st1:place>Bali</st1:place> pada akhir abad ke-15.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi <st1:city><st1:place>kota</st1:place></st1:city> <st1:city><st1:place>Bandung</st1:place></st1:city>. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya. Laporannya adalah sebagai berikut:<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p>&nbsp;</o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span>Leumpang aing ka baratkeun (Aku berjalan ke arah barat)<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span>datang ka Bukit Patenggeng (kemudian datang ke Gunung Patenggeng)<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span>Sakakala Sang Kuriang (tempat legenda Sang Kuriang)<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span>Masa dek nyitu Ci tarum (Waktu akan membendung Citarum)<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </span>Burung tembey kasiangan (tapi gagal karena kesiangan)<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p>&nbsp;</o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ringkasan Cerita<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Berdasarkan legenda tersebut, diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permitaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki diberi nama Sangkuriang.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Ketika Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya si Tumang untuk mengejar babi betina Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, lalu dibunuhnya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta KEPALA Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah TIMUR akhirnya sampailah di arah BARAT lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi &ndash; ibunya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Kesesuaian dengan fakta geologi<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Legenda Sangkuriang sesuai dengan fakta geologi terciptanya danau <st1:city><st1:place>Bandung</st1:place></st1:city> dan Gunung Tangkuban Parahu.[1]<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125 ribu tahun. Danau tersebut mengering 16000 tahun yang lalu.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda purba dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105000 dan 55000-50000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda purba sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukit Tunggul.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba telah menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah barat sungai Citarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada 55000-50000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari sisa-sisa Gunung Sunda purba. Masa ini adalah masanya homo sapiens; mereka telah teridentifikasi hidup di Australia selatan pada 62000 tahun yang lalu, semasa dengan Manusia Jawa (Wajak) sekitar 50000 tahun yang lalu.<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Sangkuriang dan Falsafah Sunda<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Menurut abah Surya atau abah Hidayat Suryalaga, mantan Rektor Itenas Bandung, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (Sungging Perbangkara) bagi siapa pun manusianya (tumbuhan cariang) yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan kata hati (nurani) sebagai kebenaran sejati (Dayang Sumbi, Rarasati). Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh/eling (teropong), maka dirinya akan dikuasai dan digagahi oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan (Sangkuriang). Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa menyesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang mempengaruhi &ldquo;Sang Ego Rasio&rdquo; untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada ahirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency &ndash; silih asih-asah dan silih asuh yang humanis harmonis, yaitu satu telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum). Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul, pohon sajaratun) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datangd dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (gunung Burangrang).<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan). Akhirnya suratan takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada &ldquo;dirinya&rdquo;. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).<o:p></o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><o:p></o:p>Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; B.Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat.</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fdirrga.com%2Fsangkuriang%2F&amp;t=Sangkuriang" id="facebook_share_both_828" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_828') || document.getElementById('facebook_share_icon_828') || document.getElementById('facebook_share_both_828') || document.getElementById('facebook_share_button_828');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_828') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<div class="addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style" addthis:url='http://dirrga.com/sangkuriang/' addthis:title='Sangkuriang ' ><a class="addthis_button_preferred_1"></a><a class="addthis_button_preferred_2"></a><a class="addthis_button_preferred_3"></a><a class="addthis_button_preferred_4"></a><a class="addthis_button_compact"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirrga.com/sangkuriang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

