Potret Nasionalisme Bangsa
Nasionalisme menurut Kohn (1961:11) adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Secara etimologis, kata nation berasal dari kata bahasa Latin natio, yang berakar pada kata nascor ‘saya lahir’. Pada masa Kekaisaran Romawi, kata natio dipakai untuk mengolok-olok orang asing. Kemudian, pada masa Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas. Selanjutnya, pada masa Revolusi Perancis, Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale (Dewan Nasional) yang menunjuk kepada semua kelas yang memiliki hak sama dalam berpolitik. Akhirnya, kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara (Amir, 2004).
Seperti apakah potret nasionalisme bangsa Indonesia dulu (pada waktu awal kelahirannya) dan bagaimana pula kondisinya kini? Untuk menjawabnya kita lihat saja perkembangan nasionalisme sejak dekade pertama abad ke-20.
Istilah ” Kebangkitan Nasional”
Sejak kapan istilah “kebangkitan nasional” dipakai? Istilah ini dikemukakan oleh Perdana Menteri Hatta pada tahun 1948. Saat itu situasi politik di dalam negeri masih diwarnai perang kemerdekaan, di mana gejolak politik begitu hebat. Mantan Perdana Menteri Amir Sjarifudin pada bulan Februari 1948 membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan melakukan berbagai provokasi yang memancing reaksi dari partai lain seperti Masyumi, sehingga timbul konflik fisik. Selain itu, akibat perjanjian Renville, tentara Siliwangi dan pemerintahan di Jawa Barat harus hijrah ke Yogyakarta, ibukota Republik Indonesia. Republik sudah berada di bawah ancaman Agresi Militer II. Keadaan ekonomi begitu buruk, inflasi meningkat. Sementara itu, Van Mook sibuk membentuk negara-negara federal seperti Negara Pasundan, NIT, dan lain-lain (Abdullah, 2001; Hoesein, 2008).
Melihat kondisi negara yang masih muda itu begitu mengkhawatirkan, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan dr. Radjiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mr Ali Sastroamidjojo agar memperingati peristiwa berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, untuk mengingatkan semua orang bahwa persatuan kebangsaan itu sudah diperjuangakan begitu lama. Usulan ini disetujui pemerintah RI. Maka dilaksanakanlah peringatan “Kebangunan Nasional” yang ke-40 pada tahun 1948 itu. Upacara peringatan dilangsungkan di “Presidenan”, kediaman Presiden RI tahun 1946-1949, di Yogyakarta. Hadir dalam acara yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantoro itu, para pimpinan partai politik yang berseteru, dan juga tokoh tokoh-tokoh nasional lainnya. Setelah itu, diadakan iring-iringan barisan keliling kota yang juga mengikutsertakan pasukan yang sedang hijrah . Sejak itulah dilakukan peringatan “Hari Kebangkitan Nasional”, kecuali tahun 1949 karena situasi yang tidak memungkinkan (Abdullah, 2001; Hoesein, 2008). Namun, secara faktual, benarkah lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 adalah awal kebangkitan nasional?
Lahirnya Boedi Oetomo
Pada hari Minggu, tanggal 20 Mei 1908, bertempat di “Ruang Belajar Kelas Satu”, STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen = Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi), tepat pukul 9 pagi, berkumpullah beberapa pelajar STOVIA. Pemuda Soetomo membuka pembicaraan, menjelaskan maksud pertemuan, dan idenya disambut dengan tepuk tangan para hadirin. Maka diputuskanlah hari itu, didirikan perkumpulan Boedi Oetomo. Ketuanya adalah Soetomo, wakilnya Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soewarno sebagai penulis. Beberapa tokoh lain yang ikut dalam pendirian BO ini adalah Goembreng, Mohammad Saleh, Soelaeman, Soeradji, dan lain-lain (Djajadiningrat, 1936: 245; Nagazumi, 1989: 64).
Dalam beberapa minggu saja Boedi Oetomo (selanjutnya disingkat BO) sudah memiliki 1200 anggota di luar STOVIA dan di luar Jakarta. Bahkan dr. Wahidin pun kemudian mendirikan Cabang BO di Yogyakarta, pada 29 Agustus 1908 dengan Ketuanya dr. Wahidin sendiri dan sekretarisnya Dwidjosewojo. Ketika diselenggarakan Kongres BO yang pertama 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta, dr. Wahidin-lah yang menjadi Pimpinan Kongres. Ini suatu gerakan yang luar biasa menarik kaum pemuda di berbagai kota, terutama di Jawa dan Madura (Nagazumi, 1989:70-81).
Memang dalam AD/ART-nya, BO tidak menunjukkan secara jelas tujuan mencapai kemerdekaan, namun secara implisit sudah ada kesadaran kebangsaaan. Hal ini terefleksikan dalam tujuan berdirinya BO, yaitu: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya, (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan, (3) kemajuan teknik dan kerajinan, (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi, (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan, (6) hal-hal lain yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa (Nagazumi, 1989: 272).
Tokoh-Tokoh Dibalik Berdirinya BO
Sebelum BO lahir, tidak dapat diabaikan peran dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker alias Danoe Dirdja Setiaboedhi dalam memberikan kesadaran nasional kepada para pendiri BO. Siapakah kedua tokoh ini dan bagaimana pula pengaruhnya?
Tokoh pertama yang erat hubungannya dengan kelahiran BO adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo. Priyayi yang lahir 7 Januari 1852 itu adalah lulusan Sekolah Dokter Jawa (yang nantinya menjadi STOVIA). Dr. Wahidin sudah menyadari perlunya ditanamkan kesadaran nasional kepada anak Hindia, agar kelak menjadi bangsa yang terhormat. Ia menganggap bahwa yang paling mendasar diperlukan untuk itu adalah pendidikan. Usaha pertama yang dilakukan adalah menerbitkan majalah berbahasa Jawa dan Melayu Retno Doemilah (artinya “Ratna Yang Berkilauan”). Melalui majalah inilah dr. Wahidin menyadarkan pentingnya pendidikan bagi bumiputera. Selanjutnya, dr. Wahidin mendirikan studie-fonds, badan penyedia beasiswa untuk golongan priyayi Jawa agar mendapat pendidikan Barat. Ia menghabiskan seluruh kekayaan yang dimilikinya untuk itu, namun tentu saja jauh dari cukup. Maka dr. Wahidin pun mengadakan perjalanan keliling ke seluruh Jawa, menemui para bupati dan priyayi untuk mewujudkan tujuan mulianya itu. Namun, usahanya ini kurang mendapat sambutan dari mereka. Dalam rangkaian perjalanannya itu, dr. Wahidin juga berceramah tentang kesadaran nasional dan masalahstudie-fonds di STOVIA, pada akhir tahun 1907. Ternyata ia mendapat sambutan yang hangat dari para pemuda itu. Pada akhir ceramah itu, pemuda Soetomo berbincang-bincang lebih lanjut dengan dr. Wahidin tentang cita-cita dr. Wahidin tersebut. Setelah dirasuki gagasan-gagasan dr. Wahidin, Soetomo segera larut dalam kegiatan untuk mendirikan suatu perkumpulan, yang dicetuskan pada tanggal 20 Mei 1908 (Nagazumi, 1989: 47-57; Ricklefs, 2005:343-344). Demikian jelas pengaruh besar dr. Wahidin dalam melahirkan BO terutama melalui Soetomo, dkk.
Tokoh kedua yang juga berpengaruh besar dalam kelahiran BO adalah E.F.E Douwes Dekker. Tokoh yang dilahirkan pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan itu, memiliki riwayat hidup yang berliku dan selama 17 tahun dari 71 tahun masa hidupnya dihabiskan di berbagai penjara. E.F.E Douwes Dekker (selanjutnya disingkat DD) dilahirkan sebagai orang Indo Eropa yang hanya memiliki seperempat saja darah Jawa.DD masih memiliki hubungan keluarga dengan Edouard Douwes Dekker (Multatuli), Asisten Residen Lebak yang terkenal dengan “Max Havelaar”nya. Multatuli adalah adik kakek DD (Van der Veur, 2006).
Setelah lulus dari HBS, DD menjadi opzichter (pengawas) di perkebunan kopi Sumber Duren di Gunung Semeru. DD kemudian menjadi laboran di pabrik Gula Pajarakan, dekat Pasuruan. Pada tahun 1900 DD bersama saudaranya Julius pergi ke Transvaal sebagai tenaga sukarelawan. Namun, akibatnya DD kehilangan kewarganegaraan Belanda karena keikutsertaannya ke Transvaal tanpa ijin Ratu Belanda. Sialnya lagi, pada tahun 1902 DD tertangkap tentara Inggris di Pretoria. DD kemudian dipenjarakan di Sailan, Colombo, hingga dikirim kembali ke Hindia Belanda karena sakit (Van der Veur, 2006).
Pengalaman di Transvaal, memberi keyakinan pada DD bahwa hanya dengan kekuatan dan kesadaran rakyat sendirilah kemerdekaan suatu bangsa dapat dicapai. DD kembali ke Hindia Belanda dengan membawa semangat untuk memerdekakan tanah airnya. Untuk itu ia perlu menyadarkan rakyat, melalui propaganda dan dunia jurnalistik adalah pilihannya. Mula-mula DD menjadi Redaktur Tilpon di Jakarta untuk harian De Locomotif yang berpusat di Semarang. Selanjutnya ia pindah ke surat kabar Surabaja’s Handelsblad. Namun tidak lama kemudian karena tidak cocok dengan pimpinannya yang beda haluan, ia pindah menjadi korektorBataviaasche Nieuwblad.(BN) Di sini kariernya meningkat terus hingga akhirnya menjadi pemimpin redaksi (Van der Veur, 2006).
Saat itu, DD memiliki perpustakaan di rumahnya di Kramat. Kebetulan rumahnya ini dekat STOVIA yang berlokasi di Gang Menjangan. Siswa-siswa STOVIA seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewarno, sering menggunakan perpustakaan DD dan berdiskusi dengan DD tentang politik. Di sinilah DD memompakan semangat nasionalisme kepada para pemuda itu. Pengaruh pribadi DD terhadap para pemuda itu begitu besar, oleh murid-murid STOVIA dia disebut sebagai “Kawan Orang Jawa Nomor Satu”. Beberapa buku antara lain karya Multatuli disumbangkan DD ke STOVIA. Itulah sebabnya DD dijuluki sebagaiopruier (penghasut) oleh pemerintah Hindia Belanda (Van der Veur, 2006).
Semangat nasionalisme yang dipompakan DD kepada para pemuda STOVIA ternyata berperan besar dalam melahirkan BO. Rapat persiapan BO pun antara lain dilakukan di rumah DD. Ketika Kongres BO yang pertama dilangsungkan di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908, DD hadir dan menganjurkan agar BO memiliki corong berupa surat kabar. Sementara BO belum memiliki sendiri, DD menawarkan agar BN dijadikan alat propaganda BO. Mengingat hubungan yang erat antara DD dengan para siswa STOVIA yang melahirkan BO, bisa dikatakan bahwa “Jiwa BO sesungguhnya lahir di rumah DD di Kramat” (Nagazumi, 1989: 56; Van der Veur, 2006).
Interpretasi Tentang Awal Kebangkitan Nasional
Dalam perkembangannya kemudian, Boedi Oetomo lebih didominasi kaum priyayi tua dan tidak menjadi organisasi politik seperti yang diharapkan kaum muda seperti Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan lain-lain. Akibatnya mereka yang tidak puas, lari ke organisasi lain atau mendirikan organisasi baru. Gaung nasionalisme berkembang terus sehingga lahirlah organisasi-organisasi pergerakan lainnya, baik yang bergerak di bidang pendidikan sosial budaya, maupun sebagai organisasi politik: seperti Sarekat Islam (1911), Muhammadiyah (1912), Indische Partij (1912), Putri Mardika (1912), Paguyuban Pasundan (1913), Jong Java (1915), Jong Sumatra (1917), Jong Minahasa, Jong Ambon, dan Jong Celebes (1918), Indonesische Vereneging/Perhimpunan Indonesia (1908/1922/1924), PNI (1927), NU (1926), Istri Sedar (1930), Putri Budi Sejati, Pasundan Isteri (1930), Partindo (1931), Gerindo (1937), dan lain-lain (Pringgodigdo, 1994).
Berbagai pendapat tentang BO diutarakan para peneliti. Misalnya Savitri Scherer (1985), cucu dr. Soetomo, dalam disertasinya menyatakan bahwa kebanyakan priyayi Jawa melihat kebangkitan kebudayaannya dengan berdirinya BO, namun perkumpulan ini secara efektif hanya membatasi diri pada peningkatan dan perlindungan kepentingan para priyayi Jawa saja (1985: 53).
Akira Nagazumi dalam karyanya yang berjudul Bangkitnya Nasionalisme Indonesia; Budi Utomo 1908-1918 (terj.) menyebutkan bahwa BO adalah organisasi nasional pertama yang tampil di Indonesia, meski pun tidak pernah menjadi organisasi politik namun jangan diartikan bahwa anggota-anggota BO menginginkan tetap di bawah kekuasaan Belanda selama-lamanya (1989: 256-257).
Robert Van Niel (1984) menyatakan bahwa BO muncul dalam pentas Indonesia sebagai organisasi yang didasarkan pada usaha individu-individu yang bebas dan sadar akan persatuan. Namun Van Niel berpendapat bahwa BO bersifat nasionalis hanya di dalam pengertian yang amat terbatas dan hanya menjelmakan kelompok kebudayaan Jawa serta tidak bemaksud membangun suatu bangsa. Menurut Van Niel pula, kebangkitan teelah terjadi jauh sebelumnya, tetapi BO merupakan suatu organisasi Indonesia pertama yang mengikuti garis-garis Barat (1984: 82-84).
M.C.Ricklefs (2005) berpendapat bahwa BO pada dasarnya tetap merupakan suatu organisasi priyayi Jawa. Meski pun jumlah anggotanya bisa mencapai 10.000 orang pada tahun 1909, namun BO merupakan organisasi yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan serta jarang memainkan peran politik yang aktif (2005: 343-344).
Jangan lupa pula bahwa pernah terjadi perdebatan, yang menyatakan bahwa awal kebangkitan nasional seharusnya dimulai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islamiyah yang didirikan pada tahun 1905. Namun pendapat-pendapat yang tidak setuju menyatakan bahwa Sarekat Dagang Islam lebih merupakan organisasi dagang yang berbasis agama daripada sebuah organisasi politik (Korver, 1985, Noer, 1973). Selain itu, ide-ide tentang nasionalisme, memang bukan hanya dihidupkan oleh BO saja, peranan para mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, melalui Indische Vereniging, yang didirikan pada tahun yang sama dengan BO, tidak dapat diabaikan (Djoyoadisuryo, 1977).
Terlepas dari pendapat-pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa BO meski pun lebih berorientasi kepada gerakan yang lebih bersifat budaya Jawa. Namun, dilihat dari segi tujuan dan programnya, jelas untuk memajukan bangsa pribumi dalam bidang sosekbud dan juga politik. Hal ini terrefleksikan dalam tujuan BO no 6. “Menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat”. Di sini secara tekstual jelas ada kata-kata “bangsa” nation, dan secara kontekstual menunjukkan cita-cita nasionalisme yang luhur, yaitu sebagai bangsa yang terhormat, artinya bangsa yang mandiri, merdeka.
Kita dapat mengatakan bahwa potret nasionalisme Indonesia pada masa awal kebangkitan nasional awal abad ke-20 memiliki ciri khas, yaitu bermula dari suatu kelompok sosial yang diikat oleh atribut kultural meliputi memori kolektif, nilai, mitos, dan simbolisme. Inilah yang disebut sebagai “nasionalisme kultural”, yang emansipatoris, dan mencari landasan identitas pada keutuhan kultural (Abdullah, 2001: 30-41). Jadi dalam hal ini, nasionalisme lebih merupakan sebuah fenomena budaya daripada fenomena politik karena dia berakar pada etnisitas dan budaya pramodern kemudian bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik sebagai sarana mendapatkan kembali harga diri etnik sebagai modal dasar dalam membangun sebuah negara berdasarkan kesamaan budaya (Amir, 2004).
Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata nasionalisme kultural ini tidak memuaskan para tokoh pergerakan. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (yang telah lulus menjadi dokter pada tahun 1908) adalah yang tidak puas dengan BO yang tetap tinggal sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial budaya saja. Maka ia keluar dan bergabung dengan Douwes Dekker dan Soewardi Soeryaningat sebagai “Tiga Serangkai” yang terkenal itu. Mereka aktif dalamIndische Partij, sebuah organisasi politik benar-benar yang bertujuan mendirikan negara merdeka. Dalam pengasingannya di Negeri Belanda, mereka aktif dalam Indische Vereniging dan ikut mematangkannya. Organisasi ini kemudian diubah namanya menjadiIndonesische Vereniging dan pada tahun 1924 menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Majalahnya yang bernama Hindia Poetra kemudian diubah menjadi Indonesia Merdeka. Sementara di tanah air, tahun 1927 di Bandung, Ir. Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia. Tanggal 28 Oktober 1928, terjadilah peristiwa besar dalam Kongres Pemuda II yaitu lahirnya “Sumpah Pemuda”. Inilah tahap yang disebut “nasionalisme politik”, di mana strategi perjuangan sudah jelas diarahkan menuju Indonesia merdeka. Kebangkitan kebangsaan tahap pertama berujung pada lahirnya sebuah negara merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945.
Potret Nasionalisme Masa Kini
Ketika negara yang bernama Indonesia akhirnya terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan penghuninya yang disebut bangsa Indonesia, persoalan ternyata belum selesai. Bangsa Indonesia masih harus berjuang dalam perang kemerdekaan antara tahun 1945-1949, tatkala penjajah menginginkan kembali jajahannya. Nasionalisme kita saat itu betul-betul diuji di tengah gejolak politik dan politik divide et impera Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, nasionalisme bangsa masih terus diuji dengan munculnya gerakan separatis di berbagai wilayah tanah air hingga akhirnya pada masa Demokrasi Terpimpin, masalah nasionalisme diambil alih oleh negara. Nasionalisme politik pun digeser kembali ke nasionalisme politik sekaligus kultural. Dan, berakhir pula situasi ini dengan terjadinya tragedi nasional 30 September 1965.
Pada masa Orde Baru, wacana nasionalisme pun perlahan-lahan tergeser dengan persoalan-persoalan modernisasi dan industrialisasi (pembangunan). Maka “nasionalisme ekonomi” pun muncul ke permukaan. Sementara arus globalisasi, seakan memudarkan pula batas-batas “kebangsaan”, kecuali dalam soal batas wilayah dan kedaulatan negara. Kita pun seakan menjadi warga dunia. Di samping itu, negara mengambil alih urusan nasionalisme, atas nama “kepentingan nasional” dan “demi stabilitas nasional” sehingga terjadilah apa yang disebut greedy state, negara betul-betul menguasai rakyat hingga memori kolektif masyarakat pun dicampuri negara. Maka inilah yang disebut “nasionalisme negara” (Abdullah, 2001: 37-39).
Tahun 1998 terjadi Reformasi yang memporakporandak-an stabilitas semu yang dibangun Orde Baru. Masa ini pun diikuti dengan masa krisis berkepanjangan hingga berganti empat orang presiden. Potret nasionalisme itu pun kemudian memudar. Banyak yang beranggapan bahwa nasionalisme sekarang ini semakin merosot, di tengah isu globalisasi, demokratisasi, dan liberalisasi yang semakin menggila.
Kasus Ambalat, beberapa waktu lalu, secara tiba-tiba menyeruakkan rasa nasionalisme kita, dengan menyerukan slogan-slogan “Ganyang Malaysia!”. Setahun terakhir ini, muncul lagi “nasionalisme” itu, ketika lagu “Rasa Sayang-sayange” dan “Reog Ponorogo” diklaim sebagai budaya negeri jiran itu. Semangat “nasionalisme kultural dan politik” seakan muncul. Seluruh elemen masyarakat bersatu menghadapi “ancaman” dari luar. Namun anehnya, perasaan atau paham itu hanya muncul sesaat ketika peristiwa itu terjadi. Dalam kenyataannya kini, rasa “nasionalisme kultural dan politik” itu tidak ada dalam kehidupan keseharian kita. Fenomena yang membelit kita berkisar seputar: Rakyat susah mencari keadilan di negerinya sendiri, korupsi yang merajalela mulai dari hulu sampai hilir di segala bidang, dan pemberantasan-nya yang tebang pilih, pelanggaran HAM yang tidak bisa diselesaikan, kemiskinan, ketidakmerataan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, tidak menghormati harkat dan martabat orang lain, suap-menyuap, dan lain-lain. Realita ini seakan menafikan cita-cita kebangsaan yang digaungkan seabad yang lalu. Itulah potret nasionalisme bangsa kita hari ini.
Pada akhirnya kita harus memutuskan rasa kebangsaan kita harus dibangkitkan kembali. Namun bukan nasionalisme dalam bentuk awalnya seabad yang lalu. Nasionalisme yang harus dibangkitkan kembali adalah nasionalisme yang diarahkan untuk mengatasi semua permasalahan di atas, bagaimana bisa bersikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kesewenang-wenangan, tidak korup, toleran, dan lain-lain. Bila tidak bisa, artinya kita tidak bisa lagi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara dari kehancuran total.
Share on Facebook
August 2, 2009 · Posted in NASIONALIS
Comments
-
-
-
Chat Box Shoutmix
Komentar Penungjung
- fngkfryy on CARA MENGGUNAKAN FAVICON
- indiesm − Artikel-artikel Software on Mozilla Rilis Firefox 3.5 RC 2
- akenexidygo on Manfaat Puasa Bagi Kesehatan
- rupoje on Potret Nasionalisme Bangsa
- werefoxi on Potret Nasionalisme Bangsa
- amukumoc on Bolt Browser Berbasis Java
- UnarneJeD on countak6
- John872 on Terkaya Di Dunia IT
- admin on Windows Bahasa Indonesia
- bunda azka on Windows Bahasa Indonesia
- quiency on countak6
- lunaticg on Pusat Peradaban Dunia
- Smocats on countak6
- Imassalphak on CARA MENGGUNAKAN FAVICON
- Kamus Malesbanget Blog » Internet Marketing Indonesia on Internet Marketing Indonesia
ARTIKEL TERBARU
- Elit Malaysia Arogan
- KEUNIKAN BANGSA INDONESIA
- Google Rayakan HUT RI
- Makna Kemerdekaan Indonesia
- Hadiah Untuk Indonesi Kita
- Antivirus untuk Jaringan
- Sejarah Panjang Suramadu
- Budaya Belanja Online
- BNI kucurkan kredit koperasi
- Baturaden
- Candi Prambanan
- Penyambung Tulang Patah
- Istana Maimun
- Monas
- Televisi Republik Indonesia
Cinta Indonesia- Budaya Mudik Yang Unik September 7, 2010Dengan Hati Yang Tulus Iklas Saya Mohon Maaf Lahir Dan Batin "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H"Tanpa terasa ibadah puasa ramadan tahun 1431 Hijriah akan segera berakhir. Salah satu pengalaman yang barangkali sangat penting dan terasa begitu mendalam bagi orang yang berpuasa adalah perasaan senantiasa dekat dengan Allah. Hal ini setidaknya tercer […]Admin
- Gamelan Jawa September 2, 2010Bagi masyarakat Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kesehariannya. Dengan kata lain, masyarakat tahu benar mana yang disebut gamelan atau seperangkat gamelan. Mereka telah mengenal istilah ‘gamelan’, ‘karawitan’, atau ‘gangsa’. Namun barangkali rnasih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu send […]Admin
- Rumah Gadang Minangkabau August 21, 2010Rumah Gadang Minangkabau merupakan rumah tradisional hasil kebudayaan suatu suku bangsa yang hidup di daerah Bukit Barisan di sepanjang pantai barat Pulau Sumatera bagian tengah. Sebagaimana halnya rumah di daerah katulistiwa, rumah gadang dibangun di atas tiang (panggung), mempunyai kolong yang tinggi. Atapnya yang lancip merupakan arsitektur yang khas yang […]Admin
- Tarian Saman Dari Aceh August 17, 2010Tari Saman adalah sebuah tarian Suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikemban […]Admin
- Batik Indonesia August 14, 2010Batik berasal dari bahasa Jawa "amBa" yang berarti menulis dan "niTik". Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak - menggunakan canting atau cap - dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Ing […]Admin
Bangga Indonesia- Kekuatan Militer Indonesia VS Malaysia September 2, 2010Ganyang Malaysia!!!… Perang dengan Malaysia! Itulah seruan banyak rakyat Indonesia kini ketika Malaysia terus melecehkan Indonesia. Lalu, jika pun terjadi perang, memang seperti apa perbandingan kekuatan militer antara Indonesia dengan Malaysia sebenarnya, dari peta politik, strategi, jumlah prajurit hingga peralatan perang (alustista)? Berdasarkan data yang […]dirrga
- Wilayah RI Akan Tambah 4.000 KM Persegi September 1, 2010Wilayah perairan Sumatera yang akan menjadi milik Indonesia mempunyai nilai ekonomi. Indonesia berpeluang besar menambah wilayah yurisdiksi laut di sebelah barat Sumatera, selatan Pulau Sumba, dan utara Papua. Bila keputusan sudah final, wilayah Indonesia bertambah sekitar 4.000 kilometer persegi. Perluasan wilayah Indonesia di barat Sumatera itu sebenarnya […]dirrga
- Keunggulan Indonesia August 20, 20101. Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni). 2. Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2). […]dirrga
- Nusantara August 16, 2010Nusantara merupakan istilah yang dipakai oleh orang Indonesia untuk menggambarkan wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16), namun untuk menggambarkan konsep yang berbeda dengan penggunaan sekarang. Pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kem […]dirrga
- Demokrasi Pancasila August 16, 2010Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah mufakat tanpa oposisi. Dalam doktrin Manipol USDEK disebut pula sebagai demokrasi terpimpin merupakan demokrasi yang berada dibawah komando Pemimpin Besar Revolusi kemudian dalam doktrin repelita yang berada dibawah pimpinan komando Bapak Pembangunan arah rencana pembangunan daripada suara ter […]dirrga
Pencerahan jiwa- Jenis Manusia September 7, 2010Ada empat jenis manusia. Yang pertama, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot, jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri. Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka. Inil […]Si Pincang
- PENGIKUT BUTA September 4, 2010Pengikut buta Beo…, beo…,beo…! Yang tengah memandang cermin melihat dirinya, Namun bukan gurunya yang sembunyi di belakang Dan belajar percakapan manusia, seraya mengira burung sejenisnya tengah berbicara dengannya Begitulah murid… Begitulah murid yang mementingkan diri Tak melihat apa-apa dalam diri syekh-nya kecuali diri sendiri Akal universal, memang… […]Si Pincang
- CINTA DALAM EVOLUSI RUHANI September 4, 2010CINTA : LAUTAN TAK BERTEPI Cinta adalah lautan tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta. andai tak ada Cinta, dunia akan membeku. Bila bukan karena Cinta, bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan? Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)? Bagaimana ru […]Si Pincang
- PUISI EVOLUSI RUH (REINKARNASI) September 4, 2010PUISI-PUISI REINKARNASI (EVOLUSI RUHANI) Seperti tumbuhan, aku mencecap air yang mengalir dalam mangkuk-mangkuk bumi Meskipun tumbuhan dan rerumputan tumbuh sekali, namun aku tumbuh berkali-kali Seperti janin yang belum terlahir, aku mencecap pula sari makanan lewat darah ibuku Karena meskipun sepertinya manusia hanya lahir sekali, Aku telah lahir berkali-ka […]Si Pincang
- BERLOMBA-LOMBA DALAM KESABARAN September 1, 2010Betapa sering kau berkata, apa yang mesti kulakukan, apa yang mesti kugunakan (untuk mencapai tujuanku)? Tetaplah di tempatmu. Jangan melampaui batasmu, sampai jalan keluar dikaruniakan bagimu dari-Nya yang telah memerintahkanmu untuk tinggal di tempatmu. Allah berfirman: "Wahai orang-orang beriman, bersabarlah, senantiasa berteguhlah dan jagalah kewaji […]Si Pincang
Anda browsing Dengan IP
Admin
Share on Facebook
674
Share
I Love Indonesia is powered by WordPress, Installed by Installatron. | Copyright © 2008. All right reserved. Theme Design by Good Design Web















werefoxi…
Bow Hunting Deer Myspace Layouts …
rupoje…
Laura Pausini Acordes Dispara …