Pasca Pilpres 2009

my INDONESIASatu hari setelah pemilu presiden, Presiden Yudhoyono langsung bekerja seperti biasa dengan menggelar rapat kabinet terbatas yang dihadiri oleh Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani, Menko Polhukam Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri KNegara operasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Panglima TNI Jend Djoko Santoso, Kepala BIN Syamsir Siregar, dan Kepala BPS Rusman Heryawan.

Di sela-sela rapat, Presiden Yudhoyono menggelar konferensi pers menyampaikan optimismenya terhadap kondisi makro ekonomi pasca Pilpres yang ia yakini dapat menarik investasi ke Indonesia serta mempercepat target pertumbuhan ekonomi 4 sampai 4,5%.

Setelah konferensi pers, Presiden kembali menggelar rapat dengan para menterinya Untuk membahas kondisi keamanan dan politik pasca-Pilpres.

Analis Citigroup Global Market Johanna Chua kembali mengulas perekonomian Indonesia. Kali ini, ulasan difokuskan mengenai perkembangan ekonomi pasca dilaksanakannya pemilihan presiden kemarin (9/7). Dalam hasil risetnya, Chua menulis, Presiden incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono berhasil memimpin di sejumlah hasil survei dan quick count sementara. Salah satunya adalah hasil perhitungan cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Berdasarkan hasil sementara quick count, SBY-Boediono berhasil menghimpun 60,8% dari total suara. Angka itu sedikit melorot dari hasil polling LSI terakhir yang mencapai 63%. Kendati demikian, perolehan itu masih melampaui hasil yang diperoleh para pesaingnya yakni Megawati-Prabowo sebesar 26,6% dan Jusuf Kalla-Wiranto sebesar 12,6%.

Hasil serupa juga ditunjukkan oleh sejumlah lembaga survei lainnya yakni Lingkaran Survei Indonesia, LP3ES dan Cirrus. Namun, hasil pilpres yang resmi baru akan dirilis pada awal September mendatang.

Jika tidak ada perubahan berarti seperti yang ditunjukkan oleh hasil survei, hal itu berarti pasangan SBY-Boediono akan memenangkan pemilihan presiden dalam satu kali putaran, tanpa harus menggelar putaran pilpres kedua pada September nanti.

“Di bawah skenario tersebut, kami memprediksi adanya kenaikan pasar dalam perekonomian Indonesia dengan posisi rupiah mampu menyentuh level Rp 10.000 dan pasar obligasi mengalami reli dengan obligasi dengan jangka waktu 5 tahun menyentuh level 9,25%,” jelas Chua panjang lebar. Kendati demikian, ada kemungkinan terjadi profit taking ke depannya.

Share on Facebook
July 9, 2009 · Posted in EKONOMI BISNIS  
    

Comments

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.